Jan 22 2010

SETELAH 3R KINI ADA 5R

KALAU dulu masih 3 R (baca disini) maka muncul R R yang lain, banyak versi tentang penambahan ini. 3 R yang sudah mendahululinya yaitu Reduce, Reuse, Recycle, tidak berubah posisi. Penambahan dua yang lainnya lah yang kemudian dimunculkan sesuai dengan kebutuhan.

Beberapa versi dari 5 R yang ada di Indonesia adalah

1. Versi SANITASI, Selain 3 R yang lama (Reduce, Reuse, Recycle), ditambah 2 R lainnya yaitu Replace dan Rethink. Replace maksudnya adalah upaya mengganti barang-barang yang sekali pakai, dengan barang-barang yang bisa digunakan berkali-kali. Contohnya adalah mengganti sendok plastik sekali pakai, dengan sendok logam. Rethink adalah upaya untuk memikirkan kembali saat membeli barang, untuk membeli barang-barang yang tidak boros kemasan (karena kemasan akan langsung dibuang saat kita hendak menggunakan barang tersebut), serta ramah lingkungan.

2. Versi PENGELOLAAN AIR, penambahan 2 R nya yaitu Rechargable dan Recovery. Rechargable adalah upaya “mengisi” kembali kandungan air tanah dengan air hujan, salah satunya dengan upaya membuat sumur resapan. Recovery adalah upaya memulihkan kondisi tanah yang air nahanya telah tersedot dengan salah satu upayanya memfungsikan kembali tampungan-tampungan air dengan cara melestarikan situ-situ dan waduk yang ada.

Akan ada R-R yang lainnya, mungkin ada diantara kamu yang bisa menjelaskannya disini?***

Bookmark and Share
Subscribe
Jan 15 2010

ANCAMAN AIR BERSIH JAKARTA

SUSAHNYA memperoleh air di Ibukota Jakarta terutama bagi pelanggan besar seperti hotel, area wisata dan sejenisnya. Dahulu, mereka lebih memilih koneksi dari pihak PAM JAYA (sejak 1998 dikelola oleh mitra asing PALYJA dan AETRA). Sebagai ilustrasi tarif pada tahun 2001 untuk kelompok IVB (termasuk di dalamnya Hotel, dan PT Jaya Ancol) sebesar Rp 5200 per meter kubiknya. Saat ini sejak tahun 2007 harga tersebut sudah menjadi Rp 12.550 /m3.

Dari sisi bisnis, pihak operator (PALYJA dan AETRA) tentu memiliki alasan dan hitung-hitungan untuk terus menaikkan tarifnya. Namun apa yang terjadi saat pelanggan besar tersebut memutuskan untuk mengolah airnya sendiri ?

Bisa diduga, alasan pelanggan besar (seperti PT Jaya Ancol), nampaknya bukan persoalan kekurangan pasokan air dari pihak AETRA, namun lebih kepada alasan ekonomis biasa (coba saja bandingkan : membeli air seharga Rp 12.550/m3, atau memproduksi air sendiri dengan harga yang lebih murah–seharga Rp 5.200/m3–). Berita selengkapnya, klik disini

Namun, memang tidak bisa dipungkiri, persoalan utama jakarta adalah penyediaan air baku. Sebagian besar sumber air baku buat air minum jakarta adalah berasal dari luar jakarta (dari waduk jatiluhur, dan dari tanggerang).

Penambahan terus jumlah sambungan pelanggan, dengan sumber air baku yang tetap, suatu saat akan menyebabkan “jatah” setiap pelanggannya akan terus berkurang. Kondisi ini sudah mulai terasa dengan munculnya berbagai keluhan di wilayah paling jauh dari pusat ditribusi (di wilayah utara Jakarta).

Jadi kalau ada yang bilang, “ah, dulu waktu masih dikelola sama PAM JAYA air lancar, sekarang setelah KERJASAMA dengan PIHAK ASING, pelayanan tambah buruk…”, kalau dicermati, sebenarnya persoalannya ada di jumlah pelanggan yang semakin bertambah sementara air baku yang relatif tetap. Ditingkahi pula dengan banyaknya “kebocoran” yang memang jadi persoalan yang membuat sakit kepala semua pihak.***

Bookmark and Share
Subscribe
Jan 05 2010

MASUK ANGIN, KENAPA?

PERNAHKAH kamu mengalami situasi berikut? Saat kamu sudah menyelesaikan desain perpipaan dari sebuah mata air di bukit, naik turun ke daerah pelayanan. Lalu saat konstruksi telah lulus ujicoba kebocoran dan pengaliran air. Namun beberapa saat kemudian air tidak bisa mengalir sama sekali ke daerah pelayanan. Tidak ada air yang bocor maupuan apapun, ada apa gerangan ?

Coba deh telusuri kembali jalur pipa dari hulu menuju hilir, berikan perhatian lebih kepada “puncak-puncak” pipa yang menaik kemudian menurun. Untuk meyakinkan, coba ketuk-ketuk pipa nya, akan terdengar pada daerah puncak-puncak tadi akan berisi udara, dan inilah penyebab kenapa air tidak mengalir ke arah hilir, UDARA YANG TERPERANGKAP.

Filosofi yang sederhana, bahwa air akan mencari tempat yang lebih rendah untuk mengalir, semantara udara akan mencari tempat yang lebih tinggi.

Saat pengaliran air di dalam pipa terhenti (mungkin karena perawatan, perbaikan) maka beberapa saat setelah air mulai mengalir kembali, sebagian udara akan terdorong ikut ke dalam pipa. Akibatnya udara-udara itu akan terkumpul di tempat-tempat yang lebih tinggi

Selanjutnya seperti kasus yang kamu temui di puncak-puncak pipa tadi, air akan terhambal laju nya karena udara yang menuh-menuhin pipa.

Jalan keluarnya adalah udara harus diberi jalan keluar, caranya adalah dengan melubangi pipa tersebut. Namun setelah di lubangi harus di tutup lagi kan? dan ah, itu tentu merepotkan.

Ada acessories pipa yang diperuntukkan bagi persoalan udara terperangkap tadi, namanya AIR VALVE. Namun bagi pengelola air pedesaan, cara menggergaji pipa untuk mengeluarkan udara adalah cara yang kerap dilakukan.

Ada juga yang memberi “tee” pada tempat2 yang tinggi, lalu di pasang kran biasa, atau bahkan tidak mau repot-repot lalu di perpanjang oleh pipa hingga menjulang meter sebagai “lubang udara” .

Semua dilakukan demi memberi jalan bagi udara yang TERPERANGKAP.

Oh, ya kalau sistem perpipaan kamu menggunakan sistem pemompaan, apakah keluhan udara terperangkap ini kerap terjadi juga ? ***

Bookmark and Share
Subscribe
Nov 11 2009

BAK PELEPAS TEKAN ATAU PIPA BERTEKANAN TINGGI ?

SUDAH familiar dengan istilah BPT atau Bak Pelepas Tekan kan? Nah, benarkah bahwa bak pelepas tekan itu wajib di pasang pada jalur pipa yang memiliki beda tinggi 200 meter (dan kelipatannya?). Bukankan hal tersebut justru akan membuang energi gravitasi yang muncul karena beda tinggi tersebut?

Semua berpulang pada kebutuhan dan kepentingan yang membangun.

Sebuah pipa memiliki tingkat ketahanan tertentu terhadap “tekanan” air yang berada di dalam pipa.sebagai contoh pipa PVC memiliki kode S.6,3 hingga S.16 yang berturut-turut menyatakan kelas pipa dengan daya tahan tinggi hingga rendah. (misal S.10 memiliki daya tahan hingga 12 kg/cm2, dan S.12 memiliki daya tahan hingga 10 kg/cm2). Semakin “kuat” pipa menahan tekanan, otomatis semakin tebal bentuk pipa tersebut, dan itu berarti harga pipa dengan diameter sama akan semakin mahal pula harganya.

Tekanan yang timbul dalam pipa adalah akibat fluida yang mengalir di dalamnya sepanjang pengalirannya. Tekanan ini bisa “dibagi” atau dikurangi dengan “melepaskan” air itu ke udara bebas, dalam hal ini dengan mengalirkannya terlebih dahulu pada sebuah Bak yang disebut Bak Pelepas Tekan (BPT),tekanan akan mulai dari “nol” lagi untuk kemudian melanjutkan perjalananannya di pipa

Nah, sekarang berbagai pertimbangan sudah dibeberkan, mau mengunakan pipa yang lebih murah dan itu berarti harus membangun BPT, atau menggunakan pipa dengan “kelas” yang lebih tinggi. Tentu saja dengan menggunakan BPT, sisa tekan yang selanjutnya akan mengalir pada jaringan pipa akan berkurang.

Pilihan diambil dengan mempertimbangkan aspek biaya yang muncul dan juga manfaatnya tentunya.***

Bookmark and Share
Subscribe
Oct 07 2009

KOMODITI EKONOMI WATSAN, KENAPA TIDAK?

Dalam bidang WATSAN juga bisa berlaku prinsip-prinsip kapitalisasi. Konsep sederhananya adalah jika ada kebutuhan (demand) yang tinggi, sementara penyediaan (supply) rendah, hal tersebut sudah bisa diindikasikan sebagai komoditi ekonomi.

Selanjutnya bisa di duga, komoditi ekonomi tentu amat diminati oleh para penggiat ekonomi, termasuk tentunya yang memiliki dukungan modal.

Coba sekarang kita amati hal yang terkait dengan WATSAN, misal Air bersih, apakah ketersediaan air bersih sudah semakin sulit? sementara akan semakin banyak orang yang membutuhkannya? Hal serupa juga berlaku untuk pengelolaan sampah dan juga air limbah.

Dengan kenyataan tersebut, apakah kamu sekalian berminat untuk menjadi pengusaha di bidang WATSAN? Ini tentu peluang yang menarik.***

Bookmark and Share
Subscribe